Lewat Corona, Semesta Minta Saya Lebih Mencintai Diri Sendiri

6

Hai, dunia luar! Apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja.

Sudah lebih dari lima pekan saya tak bertemu dengan dunia luar. Dunia luar tak ubahnya barang antik untuk saat ini bagi kita, para penghuni Bumi Pertiwi yang tengah berdoa agar pandemi Covid-19 yang sedang menjejakkan kakinya di Nusantara segera berakhir.

Masa karantina mandiri mungkin bukan perkara mudah. Rasa cemas dan bosan ditambah pola hidup harian yang berubah membuat berada di rumah terasa seperti dalam kurungan penjara. Apa lacur, stres pun pada akhirnya.

Tapi, hal itu tak berlaku bagi saya. Alih-alih gelisah dan menggerutu, saya justru menikmatinya. Ada sesuatu yang terasa nikmat di masa karantina ini. Sesuatu itu adalah ‘kesempatan’ langka yang sulit saya dapatkan selama sibuk beraktivitas di Jakarta.

Bagi saya, masa karantina adalah kesempatan untuk beristirahat dari segala hiruk pikuk harian yang selalu bikin kepala hampir pecah. Waktu untuk menikmati keheningan dan belajar lebih mencintai diri sendiri.

Ketenangan, keteraturan, dan gairah adalah tiga hal yang paling saya rindukan dari kehidupan. Keduanya hilang ditelan ingar-bingar ibu kota. 

Kondisi diperparah dengan peristiwa traumatis dan diagnosis gangguan cemas-panik dari dokter pada beberapa bulan ke belakang. Fase tersuram sepanjang 32 tahun kehidupan yang membuat hari-hari kian kacau balau.

Belum lagi kebiasaan diri untuk membiarkan otak ‘memelihara’ banyak pikiran yang membuat saya merasa tak pernah bisa untuk hadir sepenuhnya dalam kehidupan. Mencintai diri sendiri jadi utopis.

Tapi, terima kasih masa karantina! Karena masa karantina mandiri, saya punya kesempatan untuk mencintai diri sendiri dengan kembali menata hidup yang kadung berantakan.

Laman: 1 2 3

Promot Content

You might also like
close